
Memandang sejarah perkembangan arsitektur kita, dapat dikatakan bahwa dalam konteks perkembangan teori arsitektur, arsitektur Indonesia adalah konsumen. Kita mengkonsumsi pemikiran arsitektur barat dengan segala perkembangan isu sosial dan budaya mereka. Terkait hal tersebut, arsitektur Indonesia sangat menarik karena akan selalu berada pada posisi yang selalu diberi pilihan mengenai pemikiran yang mendasari arsitekturnya. Posisi ini bukanlah sebuah kemewahan, tetapi seharusnya menjadi pecut kreativitas arsitek kita untuk secara independen mencerna poin-poin pemikiran arsitektur kontemporer yang terjadi, untuk mendefinisikan kualitas arsitektur kita.
Saat kita membahas mengenai arsitektur Indonesia kontemporer, kita tidak perlu terjebak dalam pencarian identitas arsitektur kita secara kolektif. Arsitektur yang berada dalam cakupan teritori tertentu (arsitektur negara Indonesia, misalnya), tidak perlu untuk digeneralisasikan karena karakter masyarakat kita yang kompleks. Di satu sisi ada tuntutan untuk selalu menghadirkan karya dengan pemikiran kontemporer, tetapi di sisi lain dalam lapisan masyarakat kita selalu ada tuntutan yang men-stagnan-kan pemikiran arsitektur kita dan membuat publik terlena dengan memandang derajat sifat kontemporer dengan menjadikan kompleksitas komposisi bentuk sebagai parameternya. Lebih lanjut lagi, isu sosial, budaya, dan ekonomi yang masih bergejolak menambah tantangan kaum arsitek kita untuk lebih kritis. Kita berada di tengah pergulatan dengan isu kota-kota kita yang menuntut arsitektur kontemporer kita untuk mampu memberi kontribusi positif bagi ruang kota dan aktivitas yang ada di dalamnya.
Dalam wacana arsitektur Indonesia kontemporer, secara independen beberapa arsitek muncul dengan identitasnya masing-masing, dan beberapa arsitek kita mulai dikenal secara internasional karena mereka muncul dengan menawarkan kualitas pemikiran yang peka terhadap isu-isu sosial kontemporer. Diversitas identitas bukanlah masalah dalam arsitektur dan justru berhasil memancing ego arsitek untuk terus menggali pemikiran sebagai basis karya-karya yang dihasilkan untuk memberi nilai tambah bagi lingkungan binaan kita.
Saat ini, masalah-masalah teknis dalam arsitektur seakan telah ada pemecahannya melalui aplikasi teknologi. Bahkan iklim tropis yang selalu menjadi wacana dalam isu arsitektur kita, kalau mau dapat kita siasati dengan aplikasi teknologi bahan. Hal ini membuat sudut pandang kita tentang lokalitas dan identitas dalam wacana arsitektur kontemporer kita menjadi bias. Regionalisme kritis seakan mencapai puncaknya dan menempatkan kaum arsitek kita di persimpangan jalan. Begitu banyak alternatif solusi pemikiran yang dapat diambil dan permasalahan dapat disikapi dengan berbagai cara.
Lantas apa yang dapat kita jadikan pemersatu? apa yang dapat kita jadikan garis merah identitas arsitektur kita? Secara lokasi, kita tercerai berai oleh karakter alam negara kita. Secara sosial budaya, kita tercerai berai oleh diversitas masyarakat kita. Secara kepentingan ekonomi, kita tercerai berai oleh kondisi kesenjangan ekonomi masyarakat kita. Secara pola pikir, kita tercerai berai oleh kepentingan para pemegang modal. Yang menyatukan kita pada akhirnya adalah satu semangat untuk secara konsisten melakukan refinement pada pandangan dan pemikiran kita mengenai arsitektur, refinement pada idealisme yang kita pegang. Yang menyatukan kita pada akhirnya adalah satu semangat untuk maju dan memberi warna bagi arsitektur kita. Arsitektur kontemporer Indonesia adalah arsitektur yang berpikir, sebagai output dari proses introspeksi kita, sebagai output dari keberanian kita untuk kritis. Setiap arsitek memiliki kebebasan untuk berpegang pada idealisme yang ia percaya, tetapi akan selalu dituntut untuk selalu memperbaiki diri dan menghasilkan karya yang lebih baik. Jalan masih panjang bagi arsitektur Indonesia.
No comments:
Post a Comment