7.1.09

Creative Programming : After Theory




Arsitektur telah lama dipandang sebagai perpaduan antara seni dan ilmu pengetahuan, walau kaum arsitek -dalam usahanya untuk meningkatkan hakikat desain- selalu mencoba untuk memberi pandangan yang jelas terhadap ‘area abu-abu’ tersebut. Pragmatisme keteknikan yang selalu mengacu pada pendekatan sistematik yang dominan, sebenarnya justru memisahkan dirinya sendiri dari ranah arsitektur; yang merupakan bentuk kolaborasi desain yang lebih kreatif dan menempatkan penekanannya secara seimbang pada prinsip estetis dan prinsip fungsional. Dalam cara pandang ini, pemisahan antara seni dan arsitektur menjadi jelas. Desain arsitektural memerlukan pengambilan keputusan yang objektif sementara seni tidak demikian.


Teori dalam arsitektur kemudian muncul dan keberadaannya memiliki satu tujuan utama: untuk meningkatkan kualitas lingkungan binaan melalui variasi ide dan prinsip-prinsip secara relatif dari teori tersebut. Konsekuensinya, ‘tujuan’ tersebut merupakan basis untuk teori; cita-cita dan sasaran merupakan hal yang tersirat di dalamnya. Sehingga penolakan total terhadap teori dalam arsitektur dan hanya memandangnya sebagai referensi historis, pada gilirannya akan menimbulkan sikap anarkis terhadap proses desain –dan mendorong desain arsitektur lebih dekat ke arah seni. Jadi, tidak menggunakan teori ke dalam desain adalah langkah ‘memelesetkan’ desain ke dalam sebuah ‘kreasi random’ dan berharap pada terjadinya serendipity dalam desain. Bukan berarti bahwa serendipity merupakan hal yang buruk, tetapi desainer tidak boleh bersandar pada harapan tersebut. Melalui pandangan ini, teori dibutuhkan dalam suatu desain dan menunjang keberhasilan desain tersebut, atau minimal mampu memberi alasan yang baik dan logis terhadap keputusan-keputusan desain yang diambil.


Teori tidak perlu sespesifik perangkat-perangkat aturan. Sebagai contohnya, ide dekonstruksi yang didasarkan pada pemikiran Derrida sebenarnya sangat luas dan terkadang membingungkan pembacanya. Teori bersifat spekulatif dan berdasarkan pada fenomena yang ada, yang kemudian mengikat teori pada masyarakat dan budaya, sehingga teori diperlukan dalam lingkungan binaan. Untuk mengklaim bahwa teori dalam arsitektur adalah tidak relevan, sebenarnya dapat berarti pula memisahkan arsitektur dari budaya dan masyarakatnya. Teori merupakan pondasi bagi keputusan desain yang bertanggungjawab.


Dalam essaynya ‘after theory’, Michael Speaks menyatakan bahwa teori bukan hanya tidak relevan, tetapi secara terus-menerus menjadi penghambat bagi berkembangnya budaya berinovasi dalam arsitektur.... Mungkin pendapat Dr. Speaks ada benarnya, bahwa teori sebenarnya memiliki potensi untuk berperan sebagai penghambat inovasi dalam arsitektur, sehingga banyak teori desain yang bertahan untuk jangka waktu yang sangat panjang. Tetapi pandangan teori sebagai penghambat sebenarnya mungkin juga terlalu jauh, karena mungkin pandangan ini hanya berlaku bila seseorang mengklaim bahwa teori yang dipegangnya adalah teori yang terbaik. Kita dapat membiarkan desainer untuk memilih teori yang mereka anut sendiri, dan setiap desainer dengan masing-masing teori yang berbeda dapat menjadi seprogresif (bahkan mungkin lebih progresif) daripada tidak memegang teori sama sekali. Mungkin, inilah yang disarankan oleh Dr. Speaks saat ia menyebutkan diperlukan sebuah kerangka intelektual baru yang lebih bersifat suportif terhadap hadirnya inovasi, dan bukan sebagai penghambat. Masing-masing teori yang saling memberi masukan satu dengan yang lainnya tentunya dapat bersifat produktif terhadap inovasi, bukan? sehingga aksi yang diambil dalam proses desain berdasar pada eksplorasi dan deklarasi perangkat pedoman yang dianggap paling benar dan dapat berperan sebagai prinsip dalam proses desain.


Kerangka intelektual baru yang disarankan adalah keterlibatan perpaduan pengetahuan secara simultan dengan produksi fisikal. Dengan bantuan teknologi saat ini, desainer dapat terlibat dalam proses desain yang interaktif dan dinamis, dan secara cepat mampu men-generate bentuk arsitektural. Teknik produksi prototipe dalam proses desain dapat menjadi kendaraan pengembangan desain yang lebih cerdas dan peka. Proses mendesain menjadi bagian yang terintegrasi dengan proses penciptaan pengetahuan. Dalam arti lain, proses yang kemudian muncul adalah interactive design refinement.


Kemudian, tentu saja hal yang muncul dalam perdebatan mengenai teori dalam arsitektur sangat tergantung pada seberapa luas lensa yang kita gunakan, untuk dapat memandang isu yang hadir. Sebuah teori, tentu saja bukan sebuah jawaban. Teori, sebagaimana sebuah kerangka intelektual, bersifat dinamis, dan selalu dapat dipertanyakan kembali. Dan kembali pada arti fundamentalnya, teori harus tetap hadir dalam desain arsitektural sebagai basis bagi proses pengambilan keputusan. Ketidakhadiran teori desain ditakutkan dapat mendorong arsitektur ke dalam ‘cyclical paths’, sebuah jalur siklus. Lebih jauh lagi, ide mengenai hadirnya kerangka intelektual baru bagi budaya inovatif dalam desain sebenarnya juga dapat dipandang sebagai sebuah teori yang mengklaim bahwa desain akan lebih baik tanpa kehadiran teori itu sendiri. Sehingga mereka yangmengklaim hal tersebut sebenarnya sedang membawakan teori mereka sendiri. Bagaimanapun juga, inovasi melalui progresi teoretikal dan evolusi dari proses desain adalah sebuah hal yang realistis, sebagai teori dari dan untuk inovasi; bersifat multifaset, memiliki kerangka yang dinamis dari dan untuk kecerdasan dalam desain. Sebuah aliran yang menawarkan sebuah jalur keluar dari masa lalu, tanpa meninggalkannya.



No comments: