6.6.08

Arsitektur hijau: Hi and low technology

Arsitektur hijau
Ken Yeang (Designing With Nature), Dominique Gauzin-Muller (Sustainable Architecture and Urbanism)

Environmental movement dimulai sejak 1960-an, yang digagas oleh generasi yang menolak aliran masyarakat konsumtif. Mereka meneriakkan pembatasan pertumbuhan ekonomi yang tidak terkendali, yang sebagian eksternalitasnya berdampak langsung pada lingkungan. Masa 1970 sampai 1980-an, environmental movement memasuki ranah politik dan kebijakan yang berorientasi pada perlindungan lingkungan. Masa 1990-an pergerakan ini telah memiliki pengaruh di tingkat lokal dan regional, dan nasional, terutama di beberapa negara Eropa. Pada awal 1990-an, Rio Summit telah berhasil meningkatkan kesadaran akan isu ekologis tetapi sebenarnya kebutuhan akan arsitektur ramah lingkungan telah mengemuka dalam beberapa dekade terakhir. Isu yang mengemuka dalam keberlanjutan, di antaranya isu kerusakan lingkungan, perubahan iklim, serta efek rumah kaca.

Sebagai respon terhadap isu-isu lingkungan tersebut, pandangan kaum arsitek terhadap arsitekturnya harus melibatkan pandangan kaum ekologis terhadap arsitektur. Bukan hanya memandang bangunan dalam konteks estetika, tapak, utilitas, bentuk, struktur, elemen bangunan, warna, dan elemen fisik lain, tetapi juga memandang bangunan dalam konteks konsep ekosistem. Arsitektur tidak hanya dipandang terdiri dari komponen abiotik (nonliving) tetapi juga komponen biotik (living), yang saling terkait dalam sebuah sistem, menciptakan ekosistem yang otonom dan terintegrasi dengan ‘ekosistem’ lainnya.

Lingkungan binaan dapat kita analogikan sebagai sebuah sistem yang hidup/organisme yang terus-menerus ‘mengimpor’ energi dan sumber daya dari lingkungannya dan ‘mengekspor’ kembali dalam bentuk lain yang terkadang bersifat polutif. Dengan memandangnya dengan cara ini, pandangan tradisional tentang konsep arsitektur dapat termodifikasi, dipandang sebagai sebuah bentuk manajemen energi dan material atau sebagai sebuah alur energi antara sistem terdesain dan lingkungannya.

Bagaimanapun, masih terdapat gap antara kualitas lingkungan dan arsitektur. Pendekatan konstruksi yang ramah lingkungan masih memerlukan motivasi dan komitmen dari para pengembang, desainer, dan kontraktornya. Selain itu, pertimbangan lingkungan harus diterapkan pula pada proses perencanaan, bukan hanya perancangan, dan diaplikasikan dalam skala urban maupun regional, dengan selalu melibatkan dimensi pengguna-manusia sebagai titik berangkat. Karena bila kita masih menginginkan generasi masa depan dapat menikmati kualitas hidup yang memuaskan, pendekatan keberlanjutan dalam arsitektur adalah mutlak diperlukan. Pertimbangan isu lingkungan dalam proyek konstruksi memiliki implikasi ekonomis, ekologis, serta implikasi sosial, sehingga perlu didudukkan dalam konteks keseluruhan dan dilaksanakan secara objektif dan rasional.

Tanggungjawab profesional seorang desainer juga dapat ditinjau kembali. Sistem monitoring yang tepat terkait dengan arsitektur hijau perlu dikembangkan. Proses arsitektur seharusnya tidak hanya ‘selesai’ saat ia didirikan pada site-nya. Melalui konsepsi arsitektur ekologis, bangunan harus dipandang dalam konteks keseluruhan life cycle-nya, dan memberi peran positif secara fungsional maupun ekologis.

No comments: