
glad could finally start this new blog..
thanks for the visit, hope you'll love the posts!
Shopping Mall, Perumahan Tematik, dan Gaya Hidup Urban
(Michael Sorkin: Variation of a Theme Park, Seno Gumira Ajidarma: Shopping Mall Sebagai Lembaga Kebudayaan, Achmad D. Tardiyana: Ekspresi dan Gaya Hidup Metropolis)
Urbanitas dalam the new city tidak hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga pergerakan yang bebas dan sensasi bahwa kota adalah ekspresi terbaik dari keinginan bersama, dimana sifat keruangan dan privatisasinya berkurang. Ini adalah arti dari Theme Park (taman yang bertema), sebuah tempat yang dapat mewujudkan semuanya, ageografis, pengawasan dan kontrol, dan simulasi tanpa akhir. Theme park ini menampilkan visi kebahagiaan (happiness) dan kesenangan (pleasure), dimana seringkali terjadi hiperealitas.
Salah satu contoh dari Theme Park yang menjadi paradigma adalah shopping mall. Begitu banyaknya pusat pertokoan atau mall yang bermunculan dengan menyuguhkan berbagai tema menyebabkan berkembangnya budaya konsumeritas di negara-negara maju dan berkembang, bahkan di Indonesia. Hal ini kemudian terus berkembang hingga akhirnya sebuah mall tidak hanya menyediakan fasilitas perbelanjaan tetapi juga menggabungkan fasilitas lainnya seperti fasilitas hiburan (klub malam), fasilitas hunian (hotel/apartemen), bahkan fasilitas bekerja (kantor). Semua ini dilakukan untuk menarik banyak konsumen dengan tawaran berbagai kemudahan dan kesenangan (new landscape of consumption). Konsumen diberi semacam ‘emansipasi’, bahwa mereka mengkonsumsi segala sesuatu bukan karena mereka ‘bodoh’, melainkan karena mampu memberi makna suatu konsumsi bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tidaklah aneh jika mall ternyata adalah tempat bersosialisasi. Berarti, konsumsi tidak lagi diartikan sebatas pemenuhan kebutuhan material, tetapi juga perkara impian, kehendak, identitas, dan komunikasi.
Budaya konsumeritas kemudian memasuki berbagai aspek kehidupan manusia, dimana semua dijadikan komoditas, bahkan telah membentuk cara pandang baru terhadap dunia. Komoditas atau apa yang dimiliki kini menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle) yang menunjukkan status yang lebih visible daripada hubungan kelas-kelas ekonomi. Dengan kata lain identitas personal ditunjukan dengan bagaimana orang tersebut memilih aset/komoditas personal. Hal ini terkait langsung dengan proses ’estetika’ dalam budaya konsumsi, dimana segala sesuatu dapat ditampilkan dalam tatanan estetik. Proses estetika dapat dipandang sebagai proses metaforfosa yang membungkus aktivitas dengan kemasan baru, yang mampu menciptakan persepsi baru dalam masyarakat mengenai aktivitas mereka. Usaha penciptaan persepsi ini sangat erat kaitannya dengan arsitektur, yang dapat secara indrawi menampilkan arti baru dalam kegiatan yang berpotensi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Contoh yang sangat dekat dengan kehidupan kita, misalnya proses estetika dalam arsitektur kafe, lounge, spa, toko buku, atau bahkan fitness centre yang me-metamorfosa-kan kegiatan yang terjadi di dalamnya sehingga masyarakat dapat memaknai kegiatan-kegiatan tersebut sebagai bagian dari gaya hidup urban yang kekinian.
Sangat disayangkan peran arsitektur dalam membentuk apa yang disebut sebagai gaya hidup urban justru belum merambah ’domain’ urban itu sendiri, yang sangat erat kaitannya dengan ruang publik kota. Gaya hidup urban seakan-akan berhenti di ruang-ruang privat, dan belum melirik ruang urban yang sebenarnya. Pembangunan kota sangat berorientasi pada pengembangan yang sifatnya privat, dan seakan berusaha memisahkan gaya hidup masyarakat kota dengan ruang kotanya sendiri. Hal ini tentu saja berdampak pada kualitas ruang kota yang ’gersang’ dan terpinggirkan dari aktivitas keseharian warganya. Sebagai akibatnya nilai-nilai urbanitas yang seharusnya muncul, tidak pernah menampakkan diri di wajah ruang kota-kota kita.
Mungkin yang seharusnya terjadi, bila memandang isu aktual kota-kota kita, adalah proses estetika pada ruang-ruang publik kota serta aktivitas keseharian masyarakat yang potensial untuk diangkat untuk mengisi wajah ruang publik kota, sebagai katalis bagi pembentukan persepsi masyarakat akan nilai dari sebuah ruang publik. Agar masyarakat sadar akan betapa berharganya ruang publik yang selama ini terpinggirkan justru oleh kaum urban yang hidup di dalamnya, demi perubahan wajah kota-kota kita, demi mengejar ketinggalan kita dari kota-kota besar lain di dunia yang telah mampu me-manusiawi-kan ruang-ruang kota dan menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat urban mereka.
(Michael Sorkin: Variation of a Theme Park, Seno Gumira Ajidarma: Shopping Mall Sebagai Lembaga Kebudayaan, Achmad D. Tardiyana: Ekspresi dan Gaya Hidup Metropolis)
Urbanitas dalam the new city tidak hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga pergerakan yang bebas dan sensasi bahwa kota adalah ekspresi terbaik dari keinginan bersama, dimana sifat keruangan dan privatisasinya berkurang. Ini adalah arti dari Theme Park (taman yang bertema), sebuah tempat yang dapat mewujudkan semuanya, ageografis, pengawasan dan kontrol, dan simulasi tanpa akhir. Theme park ini menampilkan visi kebahagiaan (happiness) dan kesenangan (pleasure), dimana seringkali terjadi hiperealitas.
Salah satu contoh dari Theme Park yang menjadi paradigma adalah shopping mall. Begitu banyaknya pusat pertokoan atau mall yang bermunculan dengan menyuguhkan berbagai tema menyebabkan berkembangnya budaya konsumeritas di negara-negara maju dan berkembang, bahkan di Indonesia. Hal ini kemudian terus berkembang hingga akhirnya sebuah mall tidak hanya menyediakan fasilitas perbelanjaan tetapi juga menggabungkan fasilitas lainnya seperti fasilitas hiburan (klub malam), fasilitas hunian (hotel/apartemen), bahkan fasilitas bekerja (kantor). Semua ini dilakukan untuk menarik banyak konsumen dengan tawaran berbagai kemudahan dan kesenangan (new landscape of consumption). Konsumen diberi semacam ‘emansipasi’, bahwa mereka mengkonsumsi segala sesuatu bukan karena mereka ‘bodoh’, melainkan karena mampu memberi makna suatu konsumsi bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tidaklah aneh jika mall ternyata adalah tempat bersosialisasi. Berarti, konsumsi tidak lagi diartikan sebatas pemenuhan kebutuhan material, tetapi juga perkara impian, kehendak, identitas, dan komunikasi.
Budaya konsumeritas kemudian memasuki berbagai aspek kehidupan manusia, dimana semua dijadikan komoditas, bahkan telah membentuk cara pandang baru terhadap dunia. Komoditas atau apa yang dimiliki kini menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle) yang menunjukkan status yang lebih visible daripada hubungan kelas-kelas ekonomi. Dengan kata lain identitas personal ditunjukan dengan bagaimana orang tersebut memilih aset/komoditas personal. Hal ini terkait langsung dengan proses ’estetika’ dalam budaya konsumsi, dimana segala sesuatu dapat ditampilkan dalam tatanan estetik. Proses estetika dapat dipandang sebagai proses metaforfosa yang membungkus aktivitas dengan kemasan baru, yang mampu menciptakan persepsi baru dalam masyarakat mengenai aktivitas mereka. Usaha penciptaan persepsi ini sangat erat kaitannya dengan arsitektur, yang dapat secara indrawi menampilkan arti baru dalam kegiatan yang berpotensi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Contoh yang sangat dekat dengan kehidupan kita, misalnya proses estetika dalam arsitektur kafe, lounge, spa, toko buku, atau bahkan fitness centre yang me-metamorfosa-kan kegiatan yang terjadi di dalamnya sehingga masyarakat dapat memaknai kegiatan-kegiatan tersebut sebagai bagian dari gaya hidup urban yang kekinian.
Sangat disayangkan peran arsitektur dalam membentuk apa yang disebut sebagai gaya hidup urban justru belum merambah ’domain’ urban itu sendiri, yang sangat erat kaitannya dengan ruang publik kota. Gaya hidup urban seakan-akan berhenti di ruang-ruang privat, dan belum melirik ruang urban yang sebenarnya. Pembangunan kota sangat berorientasi pada pengembangan yang sifatnya privat, dan seakan berusaha memisahkan gaya hidup masyarakat kota dengan ruang kotanya sendiri. Hal ini tentu saja berdampak pada kualitas ruang kota yang ’gersang’ dan terpinggirkan dari aktivitas keseharian warganya. Sebagai akibatnya nilai-nilai urbanitas yang seharusnya muncul, tidak pernah menampakkan diri di wajah ruang kota-kota kita.
Mungkin yang seharusnya terjadi, bila memandang isu aktual kota-kota kita, adalah proses estetika pada ruang-ruang publik kota serta aktivitas keseharian masyarakat yang potensial untuk diangkat untuk mengisi wajah ruang publik kota, sebagai katalis bagi pembentukan persepsi masyarakat akan nilai dari sebuah ruang publik. Agar masyarakat sadar akan betapa berharganya ruang publik yang selama ini terpinggirkan justru oleh kaum urban yang hidup di dalamnya, demi perubahan wajah kota-kota kita, demi mengejar ketinggalan kita dari kota-kota besar lain di dunia yang telah mampu me-manusiawi-kan ruang-ruang kota dan menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat urban mereka.
No comments:
Post a Comment